Sunday, June 15, 2025

Almost 10th

Repost @nabilaimaniy


Ternyata aku salah…

Aku terus mencari jawaban, bagaimana aku bisa selalu sempurna dihadapannya

Mempelajari apa yang jadi fitrah nya laki-laki


Tapi kenapa aku jadi seperti seolah aku harus terlihat sempurna?

Justru aku semakin tak mengerti apa tujuan awal Allah menciptakan wanita dipasangkan pada laki-laki?


Aku pernah membaca,

Di saat Nabi Adam merasa kesepian di syurga, Allah ciptakan Hawa dari bagiannya

Bukan dari tanah seperti Nabi Adam

Untuk menemani

Untuk memberikan rasa tenang


Kemudian, aku cek kembali apa pesanNya

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan darinya…” Ar-Rum: 21


Terang saja ternyata benar..

Ternyata kami ini sumber ketenangan, bukan pemicu tekanan.

Mendampingi sepanjang hidupnya dalam suka duka, dengan kasih sayang dan sabar.

Menguatkan suami, bukan melemahkan.


Lalu, Sudahkah aku? 🥺


Aku melihat, bahwa kehidupan transaksional antar suami istri begitu terjadi hari ini

Aku baik, kalo kamu baik

Aku kasih, kalo kamu bisa kasih berapa

Aku tenang, kalo kamu tenang duluan


Sudahlah.. itu bukan ajaran Islam

Allah tidak begitu perintahnya

Karna kita akan lelah sendiri


Aku beri yang terbaik, karena taqwa 🥹


Yaa Rabb, hilangkanlah tantrum kami para wanita yang lemah ini

Mudahkanlah kami, semata karena beribadah kepadaMu

Sunday, January 31, 2016

Cita-Cita, "Beristirahat" Bersama Para Kekasih-Nya

ALANGKAH BAHAGIANYA

--

دعاء عمر رضي الله عنه: اللهم ارزقني شهادة في
سبيلك، واجعل موتي في بلد رسولك صلى الله عليه وسلم. رواه البخاري وغيره.

Umar bin Khattab berkata

:" Ya Allah berikan aku rizki agar Syahid di jalanMu..dan jadikan wafatku di negeri NabiMu Shallaallahu'alaihiwasallam."

(Riwayat Bukhari dan lainnya).

Pemakaman Baqi' Madinah an Nabawiyah.

Ribuan jasad telah beristirahat di sini..
Bersama jasad Sahabat Nabi, Istri Nabi dan keluarga Nabi.
Bersama jasad Mujahidin, Orang-orang Shalih, dan Ulama.
Bersama jasad Para Jamaah haji, para pahlawan, dan para Penuntut Ilmu.

Iri melihat Jamaah haji indonesia yang dishalatkan di Masjid Nabawi kemudian dikuburkan di sini.

Alangkah nikmatnya ..
Alangkah nikmatnya ..

Ingatlah jiwa....

Hidup di jasad hanya sehari atau dua hari..

Hidup di akhirat adalah tujuan nanti..

Dunia itu bagai jembatan pendek dan kecil..

Maka orang bijak tidak membuat bangunan di atasnya.

Hidup di dunia itu bagai orang berkayuh sampan di laut.

Ia tak perlu memasukkan air laut kedalamnya karena kapal akan tenggelam. Jauh dari tujuan.

Hidup di dunia itu sempit...
Penuh penipuan..
Penuh Ghibah..
Penuh curi mencuri..
Penuh penjahatnya..
Dikucilkan orang shalihnya..
Yang kaya memakan yang fakir..

Karena dunia bukan punya kita..

Suatu ketika ,Rasulullah tidur di atas tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Maka ketika itu Umar masuk menemui beliau dan menangis ketika melihat bekas merah di kulit Rasulullah yang mulia dan dicinta.

Umar menangis kenapa ?

"Wahai Rasulullah !! Raja raja persia tidur di atas Kasur kasur emas dan sutera. Sedangkan engkau tidur di atas pelepah kurma".

Maka semakin menjadi jadi tangisan Umar...

Beliau menenangkan Umar
"Wahai Umar, tidakkah engkau Suka jika Di Dunia semua milik mereka dan di akhirat milik kita ?".

Maka berhentilah tangisan Al Faruq.

Dunia hanya sehari saja...

Dunia bagai bayangan tubuh..

Jika dikejar ia menjauh..
Jika kita menjauh darinya ia akan lebih cepat mendekati anda.

Boleh mengambil dunia..

Namun perhatikan adab dan zakatnya juga sedekahnya.

Maka itulah sebaik baik harta dunia.

--
Admin Suara Madinah

Sunday, January 17, 2016

#Repost : Pesan Ayah

Wahai para suami, ataupun para calon suami, istrimua adalah pendampingmu. Coba renungkan tulisan dari seorang Ayah ini. Ayah yang rela melepas putri kesayangannya untuk dijadikan pendamping hidupmu, SELAMANYA...

Karena kelak, jika kau memiliki putri kecil, kelak kau akan mungkin merasakan hal yang sama...

***

Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga dia dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu…

Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.

Tapi,…

Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adalah orang yang asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adalah orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku. Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.

Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Namun kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dengan istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adalah untuk menepati kewajibannya kepada Allah.

Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.

***

Kaaaan.. Jadi melooooww :""""

I'm grateful for having a caring, thoughtful, tough, and great papa who always know what his lil daughter feels. He's not showing it up directly but deep in his heart there's a big space that he always treasure for. It's his daughter.

And for my future companion of life, I won't regret for having you as my soon to be life partner. There's Allah azza wa jalla's permission, He know best. And I know this is the greatest answer for all of the awaiting journey.


Monday, January 11, 2016

The Story of Tempe

Pas banget ini nemu ginian.. ada 30 resep untuk 30 hari. Bulan depannya di ulang lagi dari awal hahahahahhahaha... :P

#tempeforever #adayangsukabangetbangetbanget #yangmasakseneng #tinggalnyontek hihihi.


Friday, December 25, 2015

Worriness

Doa mamah yang selalu aku harap, doa mamah yang selalu aku pinta, doa mamah yang setiap saat aku rindukan :''''''''''''

Pada saat-saat seperti ini (yang bikin hati nggak karuan) memang doa mamah yang paling menenangkan.. Karena ridho Allah bermula dari ridho-Nya mamah sama papa.

Thursday, December 24, 2015

Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy



Kamis, 12 Rabi'ul Awwal 1437 H / 24 Desember 2015 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Mengenal Allāh
🔊 Halaqah 8 | Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy
▶ Download Audio: https://goo.gl/Jvmc8a


CONTOH KESYIRIKAN ORANG-ORANG MUSYRIKIN QURAISY

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Mengenal Allāh adalah tentang "Contoh Kesyirikan Orang-Orang Musyrikin Quraisy".

Diantara bentuk kesyirikan mereka adalah:
• Berdo'a dan bertaqarrub kepada orang-orang shālih yang sudah meninggal.
• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka dengan tujuan supaya:
⑴ Mendapatkan syafa'at orang-orang shālih tersebut disisi Allāh.
⑵ Mencari kedekatan kepada Allāh.

Allāh sendiri telah menceritakan keyakinan mereka ini di dalam Al Qurān dan Allāh mengingkarinya.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberi manfaat.
Dan mereka berkata, 'Mereka adalah pemberi syafa'at bagi kami disisi Allāh.'
Katakanlah: 'Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?'
Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan."
(QS Yūnus :18)

⇒ Dalam ayat ini Allāh menamakan perbuatan mereka sebagai bentuk menyekutukan Allāh.
Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga berfirman :
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
"Ketahuilah bahwa milik Allāh-lah agama yang tulus.
Dan orang-orang yang menjadikan selain Allāh sekutu, (mereka mengatakan) 'Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh.'
Sesungguhnya Allāh akan menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan.
Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta lagi sangat ingkar."
(QS Az Zumar: 3)

⇒ Ayat ini menunjukan bahwa tujuan mereka menyembah orang-orang shālih tersebut adalah supaya mereka mendekatkan penyembahnya kepada Allāh.
Dan cara meraih syafa'at di hari kiamat bukanlah demikian.
◆ Cara meraih syafa'at di hari kiamat adalah dengan memurnikan tauhid, bukan dengan kesyirikan.
◆ Dan cara dekat dengan Allāh adalah mendekatkan diri kepadaNya dengan iman dan amal shālih, yang wajib maupun yang sunnah, sebagaimana orang-orang shālih tersebut melakukannya.

Tidak boleh seseorang menyamakan Allāh dengan seorang kepala negara yang sulit menyampaikan hajat kepadanya kecuali melalui perantara dan para pembantunya.
Tidak boleh seseorang menyerupakan Allāh dengan siapapun karena Allāh Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa.

Sedangkan seorang kepala negara, maka dia adalah makhluq yang lemah, tidak mampu melakukan seluruh pekerjaannya kecuali dibantu oleh para pembantunya.
Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
'Abdullāh Roy,
Di Kabupaten Pandeglang

✒Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS

Wednesday, December 16, 2015

Bukan, bukan mau mengeluh.. Refleksi diri :"

first local anasthetics and burned index finger

Ketika salah satu nikmat jari telunjuk dicabut sementara oleh Sang Pemilik Jasad, gak boleh kena air, gak boleh dibuka, gak bisa nulis, gak bisa kepencet, selama 3 hari , de-el-el (kegiatan yg menggunakan jari telunjuk) . Bersyukur , bersyukur , harus banyaaak bersyukur . Rasanya maluuu sama Allah kalau kita masih suka ada terbersit sedikit saja rasa sombong.. dicabut nikmat satu telunjuk aja sudah berapa kegiatan yang gak bisa kita lakuin?? Kita manusia mah ga ada apa-apanya , kecil , suka tengil , dilihat dari ketinggian beberapa meter aja udah ga keliaataan.. yg mau disombongin loh apa?

 

Sunday, December 6, 2015

Kepada Seseorang

source: www.google.com


Kepada yang namanya akan disebut oleh waliku,
Bolehkah aku menyampaikan bahwa di setiap langkah ke depan nanti mungkin aku tidak selalu tegar, aku tidak selalu kuat, dan aku tidak selalu tegap.


Kepada yang namanya akan berlabuh di hatiku,
Bolehkah aku menyampaikan bahwa di setiap doa ada harap yang kurapal di setiap sujud, ada haru bahagia di relung jiwa, dan ada rasa baktiku atas setiap peluh.


Kepada yang namanya akan melengkapi separuh diinku,
Bolehkah aku menyampaikan bahwa di setiap prilaku yang nampak padaku, ada Allah yang telah menutupi segudang aib-aibku, ada Allah yang setia menunggu taubat atas dosa-dosaku, dan ada Allah yang tak bosan memberi maaf atas khilafku.


Kepada yang namanya akan terukir dalam episode hidupku,
Bolehkah aku menyampaikan bahwa...
Setelah miitsaaqon ghaliizha terucap, kuharap ridhomu selalu membersamai langkahku dan bersamamu menggapai rahmat Allah menuju jannah-Nya.

Aamiin allahumma aamiin.

Bontang, 11.39 pm
Ahad 06/12/15

Sunday, November 15, 2015

Do's and Don'ts

Do: Be flexible
With such a short time in your hands, you would need to negotiate. Although you might end up not hiring your favorite vendors, you can still ask them to refer to other vendors they know well. They will surely be happy to help you.

Don't: Take every matter into your own hands
Asking for help from your surroundings should be the first thing you do. Unless you're opting to elope, don't tire yourself by doing everything on your own.

Do: Stick to your schedule
Try to be strict with your own agenda and keep track of things that you have and haven't done. You need to always have a check list. Print out the timeline we shared with you to help you stay in-line with the planning process.

Don't: Have too many options
Don't bother opening yourself up to every choice available. Narrow down what you need and don't need, like and don't like. The key to this is sticking to the theme you have chosen in the first place and separating things that are unrelated and unnecessary.

Do: Cooperate with your vendors
Listening to the pros might be your best choice in this critical planning time. They must have faced this situation many times before and will know the best way to get your planning done in time perfectly.

Don't: Ask for too much advice
This is the best time to make decisions quickly. It's good to hear others' perspectives, but listening to too many opinions will only confuse you. So, decide clearly what you want, for example, how your dress will look, and ask only few people to help you. The faster you decide, the more time you will have to double check other things.

Do: Listen to your closest ones
Your closest relatives and friends are the best helping hands you can ask for. As they know your condition more than anyone else, they can surely help you get everything you need and ease your stressful planning.

#BS

21 & 31

pic source: www.google.com
Kegugupan yang hadir kala itu adalah suasana gugup yang gegap-gempita dan meluap-luap dalam hati. Iya, hanya sanggup diekspresikan dalam hati saja saking gugupnya. Lalu dihasilkanlah refleks melalui bahasa tubuh yang lebih merona dari biasanya, senyuman yang lebih lebar dari biasanya, dan degupan dada yang lebih kencang dari biasanya. Hembusan angin lembut pada pagi itu juga tak ketinggalan ikut menyambut kami. Membuat sebuah cerita baru yang akan kami lalui. Cerita yang akan kami kenang. In Syaa Allah.





Sunday, November 8, 2015

Aku Membacanya

Aku membaca masa depan yang biru di matamu
Mengeja aksara dunia yang semula buta
Aku membaca bait puisi dalam diammu
Kini aku membacanya. Sungguh!
 
Samarinda, 07 November 2015
 
BT

Tuesday, October 27, 2015

Cerita Madinah #1

Maret itu Madinah sudah memasuki peralihan musim dingin ke musim panas. Cuaca siang sudah cukup terik namun angin yang berhembus masih menyisakan hawa sejuk musim dingin sebelumnya. Kami sampai di Madinah pada waktu subuh waktu itu. Bus yang kami naiki dari Jeddah berhenti di blok-blok tempat menginap kami dan tepat pada saat itu mu'azin Masjid Nabawi tengah melantunkan adzan Subuh. Merdu. Bulu kuduk saya seketika merinding. Perpaduan antara mendengar lantunan adzan dan dinginnya angin yang berhembus subuh itu. Maklum euuy .. kulitnya kulit hutan tropis hee :D

Seperti mimpi. Saya menginjakkan kaki di bumi Allah yang paling di berkahi. Padang tandus dan gersang namun penuh berkah. Kalau boleh, saya rasanya mau guling-guling di aspal biar kerasa kalau saya nggak mimpi hehe. Subhanallah walhamdulillah walaailahaillahu Allahu Akbar. Kami serombongan dipandu oleh Ust. Haris dan Ust. Adi menuju tempat menginap kami. Tempat kami menginap kurang lebih hanya 30 meter dari pintu gerbang kompleks Masjid Nabawi. Iya sedekat itu. Boleh nggak saya ngarep bikin rumah aja disitu? Beneran deh :') Atau saya jadi penduduk Madinah? Siapa yang nggak pengen coba .. iya kan ? iya dong ? Tapi infonya nih, regulasinya agak ribet kalau mau jadi penduduk di sana :( Allahua'lam Bishowab ... Tapi selalu ada jalan kan? hihi teteuup ngarep.

Yang uniknya, pelataran jalan depan lobby hotel tempat saya menginap seketika tumpah ruah oleh penjual-penjual dadakan setelah sholat subuh usai. Mulai dari jualan Al-Quran, sajadah, khimar, sampai minyak wangi. Lalu berjalan sedikit lagi, sampailah kita ke depan gerbang kompleks Masjid Nabawi. Pagi itu saya cuma bisa berdecak kagum sambil komat-kamit nyebut Asma Allah. Ini Masjid kekasih-Mu ya Rabb. Rasulullah, Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam. Pahala sholat di masjid ini sama dengan 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram yaitu 100.000 kali (bukan hanya di Masjidil Haram tetapi juga seluruh wilayah Mekkah). Pelatarannya yang dilapisi lantai batuan marmer membuat sejuk setiap kaki yang memijak. Sepanas apapun insyaAllah lantainya akan tetap dingin. Jadi yang mau gegulingan boleh banget dicoba. Asal siap-siap didatengin sama askar atau petugas security-nya aja yaaah hehe.

Entah kenapa suasana di Madinah begitu menenangkan. Menenaaaaaaaaaaaaaaaangkan sekaaaaaaaaliiiiiiii. Rasanya ya itu tadi, jadinya nggak pengen balik lagi ke Indonesia behhehehe. Karena mungkin sudah janji Allah kota ini memang diberkahi oleh-Nya. Kotanya kaum Muhajirin dan Anshar.

Siang harinya, ketika waktu dzuhur sudah dekat, kami berjalan kembali menuju masjid. Sesampainya di depan pintu masjid megah ini, kita akan di sambut seorang atau dua orang askar wanita yang akan mengecek tas bawaan kita. Untuk informasi, saat memasuki masjid ini dilarang keras membawa kamera dan sejenisnya. Bahkan kadang handphone juga diperiksa. Tapi karena jaman sekarang handphone rata-rata sudah berkamera akhirnya boleh-boleh aja masuk ke dalam dengan membawa handphone. Ya habis gimana lagi kan yaa?

Setelah melewati pintu gerbang wanita di sebelah kanan belakang, saya langsung disambut oleh kemegahan arsitekturnya. Hiasan-hiasan dari tiang sampai langit-langitnya begitu indah. Paduan marmer berornamen dominant hitam putih kotak-kotak mendominasi tiang-tiang penyangga masjid cantik ini. Masuk ke dalam lagi, di sisi-sisi samping akan ada jejeran iglo air zam-zam yang tidak pernah kekurangan. Karena akan langsung di refill ketika habis. Subhanallah, begitu rapi dan teraturnya penataan fasilitas yang disediakan pemerintah Saudi untuk melayani jamaah umroh atau haji.

Selain itu, ditiap tiang-tiang masjid terdapat pendingin udara atau AC central yang selalu menyala. Jadi jangan khawatir ketika siang hari tidak akan terasa panas. Hawa sejuk akan selalu mengalir dari sisi bawah tiang-tiang ini. Di dekat pendingin udara tadi, juga tersusun tapi rak-rak alquran until dibaca siapa saja yang datang ke masjid. Tidak jauh dari situ, juga terdapat rak-rak untuk alas kaki yang Sudah diberi nomor, jadi kita dapat dengan mudah menghafalnya. 

Tidak terasa suara iqamat untuk sholat dzuhur terdengar lewat pengeras suara. Semua jamaah berdiri dan merapatkan shaf masing-masing. Khusyuk.

Tuesday, October 20, 2015

Esok Hari

Besok? Beneran banget besok? Iya, BESOK?

Yaa muqollibal qulub tsabit qolbi alaa diinik ..

*harus pasang ekspresi apa ini tuh?*

Thursday, October 8, 2015

Dikira Pakai Blush On -____-

Kemarin muncul lagi celetukan yang mengomentari pipi saya yang belang merah putih. Emang iya ada gitu belang warna merah putih? Hehehe.. saya langsung keingetan parade tujuh belasan di sekolah yang menggunakan gincu merah mamak dan odol merek pepsodent untuk dekor gambar  bendera di pipi-pipi kami. Jaman sekulaaaah banget gak sih ciiiiyyynn.. hehe..

Dua bulan terkahir ini entah kenapa memang saya jadi terlalu sensitip sama sinar matahari. Sebelumnya padahal cuma dalam taraf agak. Apalagi sama sinar matahari di atas jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Jadi musti wajib harus pake sunblock. Sebenernya udah dari dulu sih begini, cuman efek merah di pipi jadi kelihatan dua bulan terakhir ini lebih intens. Kayak pake blush on tapi bukan. Biasanya ya belang juga, tapi sebentar juga ilang dan gak begitu kelihatan. Kalau yang ini agak lama hilangnya tapi Alhamdulillah kadang samar-samar lagi. Berasa jadi orang bule gitu. #eeaaaa *yang mual-mual silakan pergi ke kamar mandi terdekat*

Sebenernya saya sudah sadar keadaan pipi saya ini dari jaman kuliah. Kalau kena matahari yang luar biasa panasnya dan teriknya, kulit wajah saya dengan sangat cepat (lebih cepat dari kebanyakan orang-orang yang kulitnya belang) langsung belang ngebentuk jilbab dan pipi saya langsung merah. Kece sekali bukan. Dan balik ke kulit asalnya lagi kira-kira baru dua bulan kemudian. Tapi mah saya nggak pernah kapok tuh hahaha. Jelajah alam lagi, sepedaan bareng temen lagi, melipir ke pantai lagi, walaupun muka belang-belang lagi. Sampai-sampai waktu itu ada temen kuliah yang tiba-tiba nanyain saya, "kamu pake blush on may?" weeeehhh.. saya mah langsung bilang "bahahaha.. menurut ngana -__- ke kampus pake blush on -________- ???"

Waktu itu saya memang baru datang ke kampus dan ada kuliah siang jam 1 SIANG! Dan matahari lagi gonjreng-gonjrengnya plus saya jalan kaki ke kampus tanpa payung. Jadilah muka saya kayak kepiting di rebus. Jadi itu bukan blush on sodarah-sodarah. Padahal saya gak pernah pakai skin care yang aneh-aneh gitu apalagi sampe yang peeling muka ampe kulit ari-arinya ngelontok semua. Gak pernah sama sekali euuy. Apalagi saya orangnya mah selebor banget sama perawatan muka. Paling seneng juga pake diolesin jeruk nipis sama kalau malam pake minyak zaitun aja. Plus dari SMA saya stop pake facial wash / foam merk apapun. Jadinya tuh bingung ini tuh kenapa ya? Tapi kan yaa disyukuri aja nggak sih. Mungkin kulitnya lagi ngambek gitu. Kitanya disuruh lebih rajin ngejaga tubuh pemberian Allah, nggak boleh zalim sama diri sendiri. Positive thinking aja kan ya, kan lebih enak jadinya hehehe. Alhamdulillah alaa kulli haal :)


Thursday, August 27, 2015

Setelah Sekian Lama

*bebersih debu dulu di marih...*

---

*done!*

---

Kalau diibaratkan, blog ini tuh kayak kamar kosan dan saya yang punya nih kamar kosan. Udah nggak ngerti lagi deh debunya udah setebel apaan. Saking luaaamaanyaaa doi nggak diopenin. Yang jelas ngebersihinnya cukup bikin keringetan seharian. Ngalah-ngalahin keringetannya lari pagi lanjut ampe sore hehe.

Finally I'm Back! Setelah hampir satu tahun kurang dua bulan vakum dari nulas-nulis di sini. Saya sih tetep ngunjungin kemari. Entah kenapa selalu ada rasa kangen. Tapi ya itu, mood buat nulis selama ini kayak pergi dan entah ngumpet di mana. Saya aja nyarinya susah :(

Nah, berhubung mood nya lagi okeh dan saya beneran kangen banget nulis di mari, mari kita cerita-cerita random dulu aja ya. Pemanasanlah ceritanya setelah sekian lama nggak nongol di "rumah" sendiri. Agak canggung-canggung gimana gitu kan yaa. Rasanya kayak Bang Toyib. Eh tapi belum 3 kali puasa 3 kali lebaran sih ya haha.

---

Anyway, cerita akhir-akhir ini so far so good. Ups and downs-nya juga pasti banyak. Namanya juga hidup, pastinya lika-likunya banyak juga. Tinggal gimana kitanya punya sudut pandang kayak apa kan untuk ngadepinnya. Kalau dibawa happy yaa kita ikut happy. Kalau dibawa stress ya kita ikut stress. Kalau di tengah-tengahnya? ya happy-stress-happy-stress. hihihi.

Yang jelas, kita harus tetep yakin kalau Allah selalu bersama kita, nggak pernah ninggalin kita, dan selalu ada buat kita. Yep! Optimis dan berprasangka baik. Kalau bukan kita yang PDKT sama Allah, trus siapa lagi? Mau nyalah-nyalahin orang? atau yang lebih parah nyalah-nyalahin nasib? Helloooo..

Yang bikin seru dan hidup kita warna-warni adalah ketika kita menghadirkan rasa syukur di setiap kejadian. Oke, setiap kejadian. Mau sedih, mau seneng, mau sepet, pokoknya selalu hadirkan rasa syukur. We never know what would happen for the next, right? Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Dan itu wajib untuk kita syukuri. Wajibun sekalipun.

Saya selalu suka ngomong sama diri sendiri (bukan, bukan, saya bukan lagi stress terus ngomong sendiri hehe), maksudnya sering ngingetin diri sendiri untuk selalu berbaik sangka atas setiap kejadian. Jangan khawatir, semua sudah tertulis di Lauhl Mahfudz. bahkan sepersekian sekon ke depan sudah ditulis saya bakalan ngetik apalagi habis ini. Nah, sedetil itu loh. Jadi masih mau ragu sama setiap rencana-rencana-Nya? Masih mau protes kalau tiba-tiba hidup ini nggak sesuai sama planning kita?

Kalau kata temen saya, saya suka banget nih sama tag-line yang suka beliau bikin di blognya, "Karena kita tidak tahu" iya, karena kita tidak tahu semenit lagi kita ngapain, kita tidak tahu di menit yang sama orang lain di belahan dunia lain lagi ngapain, kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan bahkan orang di sebelah kita, dan lain sebagainya. Iya, sesimpel itu. Karena kita tidak tahu. Keterbatasan kita sebagai manusia yang memang diberikan Allah tidak dapat mengetahui hal-hal yang bukan kapasitas kita untuk tau (hedeeeh mbulet amat tulisan sayah -_-). Yang intinya, sebenarnya disetiap kejadian saling berkaitan satu sama lain. Yang kalau kita "mengacau" atau "bikin jalan sendiri" tanpa seizin-Nya, jadinya justru tambah ribet bin ruwet. Percaya deh.

Sok mangkanyah yuuuk, mari kita sama-sama bersyukur atas takdir yang diberikan Allah. Karena takdir itu sejatinya untuk disyukuri bukan malah dirutuki. Kita punya senjata loh untuk takdir kita masing-masing, yang kata-Nya adalah senjata orang-orang yang yakin a.k.a beriman. Do'a. Iya, do'a. Tiga huruf sakti yang menghubungkan kita dengan sang Maha Pengabul Do'a. Yang kasih sayangnya seluas langit dan bumi. Serta ampunannya yang dapat menghapus dosa-dosa yang banyaknya bagai buih di lautan. Yuk, mari bersyukur sama-sama :)

Tulisan ini sebenernya nasehat buat saya sendiri yang masih banyak khilafnya. Jadi, sama-sama saling mengingatkan yaa..

---

Aaaah .. akhirnya saya curcol nulissssss lagi di mariiiih. Seneeeeeeeeng .. Alhamdulillah.



cheers,

mayang alfina


Friday, November 14, 2014

Memahami...

Belajar memahami memang bukan hal yang mudah. Apalagi yang dipahami adalah hal yang memang sulit dipahami. Ngemeng apa deh may? Ya pokoknya gitu lah ya. Butuh proses untuk melewati segala fase kehidupan yang kita lewati. Bahkan mungkin kita baru akan paham setelah beberapa waktu lamanya. Itulah hikmah yang kita (akhirnya) dapati.

Makanya di tengah-tengah proses itu terkadang akan muncul berbagai macam bentuk denial atau penyangkalan atas apa yang terjadi pada hidup kita. Entah itu penyangkalan yang sifatnya bodo amat sampai yang bentuknya bakalan dipikirin sampai otak rasanya ngebul berasep. Macem-macem. Kondisi sekitar juga terkadang mempengaruhi. Kita makhluk sosial bukan? berinteraksi dengan banyak orang tentunya. Nah ini nih yang bakalan membentuk pola pikir kita tadi. Akan semakin paham kah? Atau justru makin ribet?

Pada akhirnya memang pada beberapa kasus tentang memahami sesuatu (masalah apapun) ini akan melewati proses yang ribet ngejelimet kremet-kremet (?). Ya walaupun nggak semuanya, tapi sebagian memang begitu adanya. Nggak percaya? Pernah denger kalau hidup itu memang sudah masalah? Eits, jangan protes dulu. Di sini saya bukan mau bilang kalau hidup itu jadi ga enak karena sudah dari awalnya masalah. Masalah di sini maksudnya adalah tentang hal-hal yang harus kita lalui dalam hidup. Masalah tidak selalu berarti negatif bagi saya. Bisa jadi hal itu justru sangat positif.

Sebagai contoh; waktu kita mau lahir (belum lahir nih loh ya) ibu kita mengalami "masalah" pada perutnya. Iya, kontraksi gitu kan ya kalau mau melahirkan. Coba, kalau ga ada "masalah" kontraksi ini, kita nggak mungkin bakal lahir ke dunia. Setelah kita lahir ada lagi nih "masalah". Orang tua kita pasti memikirkan kehidupan jangka panjang kita. Mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai urusan kesehatan. Dengan adanya masalah ini orang tua kita mencari nafkah dengan lebih giat untuk menghidupi kita. Jadi, sebenarnya masalah itu positif kan? Sekarang setuju kan? Yang nggak setuju ya aku ora opo-opo.

Nah, balik lagi tentang memahami suatu hal yang terjadi dalam hidup kita. Fase memahami ini juga sebenarnya salah satu bentuk dari "masalah". Dengan adanya fase yang berbentuk "masalah" ini, tentunya akan membuat kita lebih bijak lagi dalam memaknanai hidup. Seperti kutipan yang pernah saya baca pada sebuah buku berjudul Halaqah Cinta hlm.180 ini:

"Setiap kesulitan selalu datang bersama kemudahan. Setiap masalah selalu memiliki jalan keluar. Inilah keseimbangan karunia Allah. Kita tidak selalu dihindarkan dari maslah. Tidak pula selalu dijauhkan dari persoalan. Kalau seperti itu, bagaimana kita belajar untuk bersabar dan bersyukur, berpengalaman menghadapi masalah, dan memiliki ketangguhan untuk menyelesaikannya? Inilah salah satu karunia terbesar Allah untuk kita"
Jadi, proses memahami sesuatu, yang bisa jadi berwujudkan "masalah" bukanlah hal yang harus dihindari. Sapa ia, kenali ia, dan rangkul ia. Prosesnya tidak mudah memang, tapi yakin kita bisa melewatinya. Tenang kawan, akan ada pelangi setelah hujan :)

Friday, November 7, 2014

Senja di Tepian Sungai

Mereka berada dalam satu potongan kisah, senja itu. Entahlah, salah satu dari mereka hanya yakin keadaannya begitu. Atau malah keduanya?

#

Hiruk-pikuk keramaian di tepian sungai terlebar di pulau itu begitu meronakan wajah siapa saja yang melihatnya. Paduan sang lembayung jingga dan gemulai riak air sungai senja itu sungguh sebuah harmoni sempurna. Di sepanjang alur sungai sore itu, tawa, canda, dan aroma kebahagian tumpah ruah dalam satu waktu. Tampaknya memang sedang ada sebuah perayaan di sana. Benar saja, ternyata sedang diselenggarakan sebuah festival budaya.

#

Pandangannya antusias melihat keramaian yang ada. Dari dalam mobil yang ia tumpangi, kepalanya sedikit mendongak ke arah luar dari balik kaca yang terbuka. Penasaran. Tidak biasanya tepian sungai itu begitu ramai dan penuh sesak. Ditambah lagi kondisi lalu lintas senja itu sedang tidak bersahabat. Padat. Tersendat. Namun, ia tetap menikmatinya. Ia tahu bagaimana cara mengusir kegusarannya akan kondisi jalan senja itu. Mengamati setiap cuplikan episode kegiatan di hadapannya. Menarik. Begitu pikirnya.

Senja semakin ke ufuk barat. Tak dipikirkan lagi kekhawatirannya akan tumpangan mobil yang akan ia naiki selanjutnya karena harus menuju ke kota seberang. Ia tetap memandang ke arah tepian sungai senja itu. Hanya sebentar saja, pikirnya. Keramaian yang tercipta benar-benar membuatnya seperti terhipnotis. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin tetap memandang lekat hiruk-pikuk di tepian sungai senja itu. Hingar-bingar, memesona.

#

Pandangannya antusias melihat keramaian yang ada. Dari balik pagar pembatas antara pinggiran sungai dan jalan raya di sampingnya ia siap mengabadikan momen senja itu. Lensa kamera profesional yang dibawanya sedari tadi sibuk mencari fokus yang pas untuk dibidik. Di tengah keasyikannya, tak sengaja kakinya tersenggol oleh balita mungil yang sedang belajar berjalan. Fokusnya buyar. Namun, ia hanya tersenyum sambil menoleh ke arah balita yang mulai berjalan menjauh darinya ke arah tepian jalan raya. Tak pelak ibu balita itu ikut berlari mengejar balitanya. Klik. Satu frame tersimpan. Tetapi pandangannya terhenti. Ia memandang ke arah jalan raya. Entahlah, ia hanya ingin menatap jalan raya yang tepat berada di sampingnya itu sejenak saja.

Setelah puas memandangi ke arah jalan raya, kini fokusnya kembali ke tepian sungai yang hari itu lebih ramai dari biasanya. Festival budaya hari itu terlihat berbeda. Menarik. Beberapa pelayar berpacu menggunakan perahu motornya. Warna-warni dekorasi perahu berkibar mengikuti arah angin dan menambah semaraknya pacuan perahu motor. Tak mau kalah, matahari senja kala itu memancarkan cahayanya yang paling hangat meneduhkan. Memantul indah sempurna di riak-riak air sungai yang dihasilkan oleh pacuan perahu motor. Momen ini tidak ia lewatkan. Segera ia fokuskan bidikan dari lensa kameranya. Dan sekali lagi, Klik! Matahari senja berhasil ia rengkuh hanya dalam sekali bidik. Cantik. Berpendar jingga, meneduhkan.


***

____________________________________________________

Selamat malam purnama, kami melihatmu. Dari jauh. Berjauhan.

Wednesday, November 5, 2014

Kampung Halaman

Mata sebenernya udah kriyep-kriyep minta diistirahatin, tapi pikiran masih mubeng-mubeng ngajak muter sana-sini. Jadinya supaya jadi melek yang produktip, saya ngoceh bermanfaat aja di sini (semoga) hehehe.

Jadi pengen nanya, pernah nggak sih kepikir kapan kita akan 'kembali'. Iya, kembali ke kampung halaman kita yang sebenarnya. Kampung halaman di mana kita berasal sebelum jadi apa-apa. Tempat nabi pertama kita (Adam as.) diciptakan. Suatu saat pasti waktu itu akan tiba. Tapi yang sudah jadi rahasia umum adalah kita tidak akan pernah tau kapan waktu itu akan datang. Rahasia besar. Hanya Ia yang tau dan berhak tau.

Manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Sudah tertulis tentunya di Lauhl Mahfudz. Tidak perlu ragu apalagi bimbang. Terkadang kita masih suka bertanya di setiap episode kehidupan kita. Kenapa itu begini? Kenapa ini begitu? dan banyak jenis pertanyaan kenapa lainnya. Padahal kalau kita mau berpikir sejenak, hal tersebut sungguhlah perkara sederhana. Tidak berbelit-belit. Takdir kita sudah ditentukan sebelum kita diciptakan, tinggal gimana usaha dan doa kita yang melengkapinya. Karena doa dan takdir itu 'berperang' setiap waktu. Takdir buruk mungkin saja berubah baik di saat doa-doa kita (atau doa orang lain untuk kita) diijabah oleh-Nya. Atau malah sebaliknya. Dan sekali lagi yang perlu diingat adalah semua episode-episode itu sudah diketahui oleh-Nya. Tercatat rapi, tidak tertukar.

Sayangnya tidak semua orang berpikir demikian, pun terkadang saya saat sedang khilaf atau dalam keadaan ruhiyah lagi di dasar goa. Masih suka muncul pertanyaaan jenis 'kenapa' tadi di benak saya. Padahal kalau diingat-ingat lagi bentuk pertanyaan jenis 'kenapa' ini adalah gejala awal bentuk belum bersyukurnya kita terhadap apa yang Allah berikan seutuhnya kepada kita. Kalau dipikir-pikir lagi nih (musti banyak mikir hehe) apa sih yang nggak Allah kasih ke kita? Kurang lengkap apa lagi coba? Tapi ya kok kita manusia gini amat ya sifatnya :( suka kufur nikmat dan lupa bersyukur (istighfar banyak-banyak). Padahal Allah sudah begitu baik (teramat baik) dengan menutupi segala jenis aib kita dari orang lain sehingga kita terlihat seperti apa yang orang lain lihat. Bersyukur may, bersyukur... (astagfirullah)

Sebenernya ocehan saya ini lebih untuk mengingatkan untuk diri saya sendiri. Masih banyak kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang sering lakukan. Padahal tabungan amal saya belum tentu surplus, eeehhh malah sering dibikin defisit. Semoga Engkau mengampuniku ya Rabb :'''''( dan ampuni pula dosa kedua orang tua saya, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu kecil.

Salah satu guru saya pernah berkata di dalam sebuah kajian, "seseorang itu dilihat dari bagian akhirnya". Semoga kita semua mendapatkan akhir yang baik, khusnul khotimah. Sebaik-sebaiknya keadaan untuk kembali ke kampung halaman. Allahu a'lam bisshowab.

#note to my self#